Tim Riset MORA The AIR Funds FTIK UIN Syekh Wasil Kediri Mulai Uji Coba Model CEEM di MTsN 2 dan MAN 1 Kota Kediri
Kediri, September 2026 — Tim Riset MORA The AIR Funds Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan (FTIK) UIN Syekh Wasil Kediri mulai memasuki tahap penting dalam penelitian pengembangan Cultural–Ecopedagogy and Educational Management (CEEM) Model Based on Education for Sustainable Development (ESD). Setelah menyelesaikan studi pendahuluan melalui penggalian data primer dan sekunder, tim peneliti kini mulai melakukan uji coba awal model CEEM pada madrasah mitra di Kota Kediri.

Tahap uji coba ini merupakan kelanjutan dari studi pendahuluan yang sebelumnya dilakukan melalui pengumpulan data primer dan sekunder. Data primer diperoleh melalui wawancara, observasi, dan dokumentasi di sejumlah sekolah di Yogyakarta, Sukoharjo, dan Sulawesi Utara. Sementara itu, data sekunder dihimpun melalui berbagai jurnal ilmiah dan sumber terpercaya yang membahas praktik ecopedagogy di Indonesia, Australia, dan Jepang. Berbagai temuan tersebut menjadi landasan bagi tim dalam menyusun dan mengembangkan model CEEM yang akan diuji dalam konteks madrasah di Indonesia.
Pada tahap awal implementasi, Tim Riset MORA bekerja sama dengan MTsN 2 Kota Kediri dan MAN 1 Kota Kediri. Di MTsN 2 Kota Kediri, kunjungan penelitian dilaksanakan pada 1 September 2026 dan diterima secara baik oleh kepala madrasah beserta jajaran pimpinan, wakil kepala madrasah, dan guru-guru pembimbing riset. Kegiatan diawali dengan analisis kondisi madrasah untuk mengetahui tingkat kesiapan dalam mengikuti uji coba awal model CEEM. Selanjutnya, pada 3 September 2026, tim melanjutkan kegiatan serupa di MAN 1 Kota Kediri dan mendapat sambutan baik dari kepala madrasah beserta jajaran pimpinan dan wakil kepala madrasah.
Analisis awal dilakukan melalui Focus Group Discussion (FGD) bersama pimpinan madrasah dan guru-guru pembimbing mata pelajaran yang terlibat dalam penelitian. Diskusi diarahkan untuk memetakan sistem, program, dan potensi madrasah; praktik cultural ecopedagogy dan ekoteologi; penerapan Education for Sustainable Development (ESD) dalam pembelajaran; pengelolaan pendidikan; serta kesiapan madrasah dalam melaksanakan uji coba model CEEM.

Selain FGD, tim peneliti juga melakukan pengumpulan data melalui penyebaran angket kepada tenaga pendidik dan kependidikan serta peserta didik. Instrumen tersebut digunakan untuk memotret kondisi School Well-Being Ecosystem Profile (SWEP) sebagai salah satu bagian penting dalam pengembangan model. SWEP dirancang untuk melihat lima aspek utama, yaitu Having, yang berkaitan dengan kondisi dan fasilitas sekolah; Loving, yang menggambarkan hubungan sosial; Being, yang berkaitan dengan penghargaan, partisipasi, dan pengembangan diri; Health, yang mencakup kesehatan fisik dan mental; serta Sustaining, yang berhubungan dengan kesadaran budaya, kepedulian terhadap manusia dan lingkungan, ecopedagogical praxis, tanggung jawab terhadap bumi, dan kehidupan berkelanjutan.
Hasil pemetaan melalui FGD dan survei tersebut selanjutnya akan menjadi bahan penting bagi tim peneliti untuk melihat kesesuaian model CEEM dengan kondisi nyata madrasah. Proses ini sekaligus menjadi bagian dari mekanisme evaluasi dan penyempurnaan model agar model yang dikembangkan tidak hanya memiliki landasan konseptual, tetapi juga relevan dengan kebutuhan dan karakteristik satuan pendidikan.
Ketua Tim Riset MORA The AIR Funds, Prof. Dr. Hj. Munifah, M.Pd., melalui penelitian ini mendorong lahirnya model pengelolaan pendidikan yang tidak hanya memperhatikan aspek akademik, tetapi juga membangun hubungan harmonis antara warga sekolah, budaya, lingkungan, dan keberlanjutan. Pendekatan cultural ecopedagogy diharapkan dapat menjadi salah satu inovasi dalam mewujudkan ekosistem madrasah yang sehat, berkelanjutan, dan mendukung school well-being.
Uji coba awal di MTsN 2 dan MAN 1 Kota Kediri ini belum menjadi tahap akhir penelitian. Tim masih akan melanjutkan berbagai tahapan pengujian, evaluasi, penyempurnaan, dan implementasi model hingga diperoleh model CEEM yang semakin matang dan aplikatif. Pada akhirnya, penelitian ini diharapkan dapat menghasilkan model Cultural–Ecopedagogy and Educational Management (CEEM) yang dapat direplikasi dan dikembangkan secara lebih luas di madrasah di seluruh Indonesia.
Dengan demikian, riset MORA The AIR Funds FTIK UIN Syekh Wasil Kediri tidak berhenti pada pengembangan konsep, tetapi diarahkan untuk menghasilkan praktik pengelolaan pendidikan berbasis ekopedagogi yang nyata, kontekstual, dan berkelanjutan bagi penguatan ekosistem pendidikan madrasah di Indonesia.



